Open for Public, Internet Sharing Service

Kamis, 25 September 2014

Posted by Vediana 17.44 No comments
Hello again guys! Sekarang tugas kami yaitu membuat dialog imajinatif antara badan dan jiwa. Kelompok kami mendapat inspirasi yang agak tragis karena badan dan jiwa ini harus berpisah. Dialog imajinatif layaknya pesan terakhir sebelum ajal menjemput #sayataulebay
Yaudah sana baca! =3=


Dialog Imajinatif antara Badan dan Jiwa
Badan : Jiwa, aku ingin kau tau sesuatu.
Jiwa    : Apa itu? aku akan mendengarkan dengan baik.
Badan : Kau tahu, bahwa aku tak dapat hidup tanpamu :( kau lah yang membuat aku berarti dalam dunia fana ini.
Jiwa    : Iya aku sangat tahu itu badan.
Badan : Aku sangat berterima kasih jiwa atas segala yang kau berikan, seperti mengasuhku dan mengolahku sehingga aku hidup seperti sekarang.
Jiwa    : Iya sama-sama badan, aku juga berterima kasih padamu yang telah mengizinkanku menumpang di dalam dirimu untuk menyatukan kita sampai pada akhirnya aku pergi meninggalkanmu.
Badan : Jangan tinggalkan aku jiwa, aku akan hampa dan tak bisa melakukan apa-apa, ku mohon jangan pergi.
Jiwa    : Aku tak bisa tinggal selamanya di dalam dirimu, karena aku memiliki batas yang telah ditetapkan dalam ajaran-ajaran agama yang ada.
Badan : Tapi....
Jiwa    : Badan, sesungguhnya aku tak ingin pergi darimu tapi aku sudah tak sanggup lagi mengolah daging dan tulangmu yang tak akan bisa berfungsi bila aku pergi.
Badan : Maafkanlah aku yang selalu menua di setiap tahunnya.
Jiwa    : Tak apa badan, kita telah memiliki masa yang telah di tetapkan untuk bersama dan berpisah. Jika kau telah mencapai batasnya badan, kau tak berguna lagi bagiku dan aku akan kembali kepada pengasuhku, Pemberi hidupku. Tuhan.

Udah gitu aja  ...
Posted by Vediana 17.40 No comments
Hello guys~ Karena adanya tugas dari para dosen tercinta, saya memutuskan untuk memposting penelusuran kelompok kami tentang Etika di Sekitar Lingkungan Universitas. Inilah hasil-hasil yang kami dapatkan:

Pendiskusian pelajaran di luar yang dapat menciptakan rasa santai
Budaya mengantri saat membeli makanan yang harus dicontoh
Udah gitu aja ...

Posted by Vediana 17.32 No comments
Ini tugas kita, bikin kliping :D
Udah gitu aja ...

Selasa, 23 September 2014

Posted by Vediana 01.50 5 comments
SYLLOGISM
  • Silogisme adalah suatu kesimpulan dimana dari dua putusan disimpulkan putusan yang baru.
  • Prinsipnya jika premis-premisnya benar, simpulan yang dihasilkan benar.
  • Silogisme hanya boleh berisi 3 bagian
    • (S-P) kesimpulan
    • (S-M) premis minor
    • (P-M) premis mayor
  • 2 macam silogisme:
    • Silogisme Kategoris: silogisme yang premis dan simpulannya adalah pernyataan tanpa syarat.
      • Silogisme Kategoris Tunggal: Silogisme yang mempunyai 3 term (S,P,M). Bentuk-bentuknya antara lain:
        • M adalah S dalam premis mayor dan P dalam premis minor dengan aturan premis minor harus sebagai penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.
        • M jadi P dalam premis mayor dan minor dengan aturan salah satu premis harus negatif sedangkan premis mayor bersifat umum (semua).
        • M menjadi S dalam premis mayor dan premis minor dengan aturan premis minor harus berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
        • M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor dengan aturan premis minor harus berupa penegasan, sedangkan simpulan bersifat partikular.
      • Silogisme Kategoris Majemuk: Silogisme yang sangat lengkap, lebih dari 3 premis. Bentuk-bentuknya:
        • Epicherema: silogismenya yang salah satu atau kedua premisnya disertai alasan.
        • Enthymema:  silogisme yang dalam penalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit.
        • Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme yang lainnya.
        • Sorites: silogisme yang premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, shg predikat dari putusan yg satu jadi subjek putusan berikutnya.
      • Hukum silogisme kategoris
        • Tidak boleh mengandung lebih dari 3 term (S,P,M).
        • M tidak boleh terkandung dalam simpulan.
        • Term S dan P dalam premis tidak boleh lebih luas daripada premis-premisnya.
    • Silogisme Hipotesis
FALLACIA
  • Fallacia=kesalahan pemikiran dlm logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan krn penalaran yg tdk sehat
  • Klasifikasi
    • Kesesatan Formal: Pelanggaran terhadap kaidah logika
    • Kesesatan Informal
      • Kesesatan diksi
        • Kesesatan karena penempatan kata depan yang keliru
        • Kesesatan karena mengacaukan posisi subjek atau predikat
        • Kesesatan karena ungkapan yang keliru
        • Kesesatan amfiboli atau amphibologic
        • Kesesatan aksen
        • Kesesatan alasan yang salah
      • Kesesatan Presumsi
        • Generalisasi tergesa-gesa
        • Non sequitor (belum tentu)
        • Analogi palsu
        • Penalaran melingkar (petitio principli)
        • Deduksi cacat
        • Pikiran simplistis
      • Kesesatan karena menghindari persoalan
        • Argumentum ad hominem
        • Argumentum ad populum
        • Argumentum ad misericordiam
        • Argumentum ad crumemam
        • Argumentum ad verecundiam
        • Argumentum ad ignorantiam
        • Argumentum ad auctoritatem
        • Argumentum ad baculum
        • Argumentum demi keuntungan seseorang
        • Non causa pro kausa
      • Kesesatan retoris
        •  Eufemisme/disfemisme
        • Penjelasan retorik
        • Stereotipe
        • Innuendo
        •   Loading question
        • Weaseler
        •  Downplay
        •  Lelucon/sindiran
        • Hiperbola
        • Pengandaian bukti
        • Dilema semu
REFERENCES
  • Power Point Dosen.
  • Buku Pembelajaran Filsafat untuk Perkuliahan KBK Blok Filsafat oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor, Carolus Suharyanto, Lic.Theol., Mikha Agus Widianto,M.Pd., Bonar Hutapea,M.Si.Psi.

PICTURES
  • Syllogism: http://pad2.whstatic.com/images/thumb/9/98/Understand-Syllogisms-Step-1.jpg/670px-Understand-Syllogisms-Step-1.jpg
  • Syllogism Figures: http://stickmenwithmartinis.files.wordpress.com/2013/05/categorical-syllogism-figures.jpg (cropped for easier usage)
  • Fallacia: http://images.sodahead.com/polls/000778701/polls_fallacy_fallacious_1304_796085_poll_xlarge.jpeg


Minggu, 21 September 2014

Posted by Vediana 05.10 6 comments
SUBJECTIVISM
  • Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.
  • Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
  • Penganut: Aristoteles, Plato, Rene Descartes, kaum Solisisme (solo ipse), kaum realisme epistemologi, kaum idealisme epistemologi
  • Ciri-ciri Pendekatan Subjektivisme
    • Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus.
    • Pengalaman subjektif sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri.
    • Prinsip subjektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subjek.
  • Descartes: Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
  • Kaum Realisme Epistemologi berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yang lain” dari diri saya.
  • Kaum Idealisme Epistemologi berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
  • Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
  • Semua pengetahuan tentang  sesuatu yang bukan aku atau  yang diluar diri sendiri diragukan kepastian kebenarannya.
  • Kesadaran akan diri sendiri merupakan hasil dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergulatan dengan dunia luar.
  • Kita mengenal keberadaan dunia di luar diri dari pengalaman berhadapan dan berinteraksi dengannya.
  • Aku bisa tahu bahwa orang lain yang menjadi lawan bicara ku dalam dialog adalah pribadi seperti aku, karena dia mengungkapkan perilaku sebagaimana aku berperilaku.
  • Aku sadar dan kenal diriku justru dalam kesadaran dan pengenalan yang bukan aku.
  • Dalam kenyataan hidup diri sebagai subjek yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai pelaku (agent) tidak bisa mengandaikan adanya yang lain baik sebagai objek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subjek dalam dialog.
  • Apabila paham subjektivisme hanya mau dikatakan tentang pentingnya peran subjek atau sisi subjektivitas pengetahuan, maka paham ini masih dapat diterima.
  • Apabila mengklaim bahwa sesungguhnya ada dan dapat diketahui dengan pasti itu hanyalah subjek dan gagasannya, sedangkan semuanya yang lain baik adanya maupun dapat diketahui perlu diragukan, maka paham subyektivisme tersebut tidak dapat diterima.

OBJECTIVISM
  • Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar dibandingkan di dalam pikiran manusia.
  • Obyektivisme merupakan pandangan bahwa objek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.
  • Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.
  • Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang difahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
  • Ada 3 pandangan dasar objektivisme:
    • Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subjektif.
    • Kebenaran itu datang dari bukti faktual.
    • Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
  • Pengetahuan dalam pengertian objektivis:
    • Sepenuhnya independen dari klaim seseorang untuk mengetahuinya.
    • Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
    • Pengetahuan tanpa orang: ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek (Karl R. Popper).
  • Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipersepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas.
  • Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak.
  • Para filsuf Skolastik mengangap perlu untuk memperbaiki beberapa keyakinan harian kita, yaitu: meletakkan “kesalahan” pada indera, karena indera tidak pernah salah.
  • Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif.
  • Masalah persepsi tetap merupakan masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi.

CONFIRMATION
  • Secara etimologi, konfirmasi berasal dari Confirmation yang berarti penegasan atau memperkuat.
  • Jika dihubungkan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta.
  • Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg normatif antara hipotesis.
  • Ada 2 aspek konfirmasi:
    • Kuantitatif (Induktif)
      • Membuat penelitian dengan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yg akhirnya membuat suatu kesimpulan yg bersifat umum.
      • Argumentasi induksi akan menjadi lebih kuat apabila jumlah kasus individualnya meningkat.
    • Kualitatif
  • 3 Jenis Konfirmasi
    • Decision theory: kepastian berdasarkan keputusan.
    • Estimation theory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas.
    • Reliability theory: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta yg berubah-ubah terhadap hipotesis.
INFERENCE
  • Inferensi berarti penyimpulan (proses pembuatan kesimpulan).
  • Penyimpulan: bisa berupa mengakui atau memungkiri suatu kesatuan antara dua pernyataan.
  • Jenis-jenis Inferensi
    • Cara deduktif
      • Inferensi langsung : penarikan kesimpulan dari satu premis
      • Inferensi tidak langsung (Inferensi silogistik) : penarikan kesimpulan dari beberapa premis.
    • Cara induktif
  • Predikat konklusi disebut term mayor, sedangkan subyek konklusi disebut term minor.
  • Premis yang mengandung term mayor disebut premis mayor, premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
  • Hukum Interferensi
    • Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
    • Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar.
    • Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah.
    • Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
CONSTRUCTION OF THEORY
  • Teori adalah model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau sosial tertentu.
  • Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah
  • Teori mempunyai 2 kutub:
    • Kutub 1: Teori sebagai hukum experimental
    • Kutub 2: Teori sebagai hukum yang berkualitas normal, seperti teori relativitas Einstein
  • Perkembangan teori
    • Animisme: kepercayaan terhadap mitos
    • Ilmu empiris
    • Ilmu teotiris
  • Konstruksi teori dibangun dengan
    • Abstraksi generalisasi
    • Deduksi probabilitik dan deduksi apriori (spekulatif)
  • 3 Model Konstruksi
    • Model korespondensi: kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansinya dengan yang lain.
    • Model koherensi: sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan moral tertentu. Model ini digunakan dalam pendekatan fenomenologis.
    • Model paradigmatis: Konsep kebenaran ditata menurut pola  hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.
  • Aliran dalam Konstruksi Teori
    • Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yang abstrak, tidak dapat diamati secara empiris, dan tidak dapat diuji langsung.
    • Instrumentalisme:  teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
    • Realisme: teori dianggap benar bila real, secara substantif ada,  bukan fiktif.

LOGIC
  • Pengantar
    • Logika berasal dari bahasa Yunani, logikos yang berarti sesuatu yang diungkapkan lewat bahasa.
    • Pertama sekali digunakan istilah itu oleh Zeno dari Citium (334 – 262 SM) 
    • Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, dan membahas aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan untuk mencapai kebenaran yang dpt dipertanggungjawabkan secara rasional.
    • Secara singkat dapat dikatakan logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus.
    • Logika juga merupakan ilmu pengetahuan dalam arti ini. Lapangan ilmu pengetahuan ini ialah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Agar dapat berpikir lurus, tepat dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan seta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati.
    • Logika bukanlah teori belaka. Logika juga merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek.
    • Inilah sebabnya mengapa logika disebut filsafat yang praktis.
  • Objek Logika
    • Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
    • Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
  • Manfaat belajar logika
    • Membantu setiap  orang untuk mampu berpikir kritis, rasional, metodis.
    • Kemampuan meningkatkan kemampuan bernalar scr abstrak.
    • Mampu berdiri lebih tajam dan mandiri.
    • Menambah kecerdasan berpikir, shg bs menghindari kesesatan dan kekeliruan dlm menarik kesimpulan.
  • Macam-macam logika
    • Logika kodrati: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika scr spontan.
    • Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dpt bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.
  • Logika Formal
    • Logika formal adalah logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk.
    • Logika formal disebut juga logika minor.
    • Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.
    • Yang harus diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan.
    • Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
    • Pola penyusunan pada logika formal: 
      • Semua M adalah P
      • Semua S adalah P
      • Jadi, semua S adalah P
  • Logika Material/Isi
    • Logika yang membahas tentang kebenaran isi.
    • Logika material disebut logika mayor.
    • Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
    • Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan..
    • Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.
  • Logika Induktif
    • Ciri-ciri penalaran induktif:
      • Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera.
      • Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya.
      • Dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
    • Generalisasi Induktif
      • Generalisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atau sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua.
      • Kesimpulan dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas atau peluang.
    • Syarat Generalisasi:
      • Generalisasi tidak terbatas secara numerik.
      • Generalisasi tidak terbatas ruang dan waktu (spacio-temporal).
      • Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.
    • Analogi Induktif
      • Analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran  gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.
      • Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan khusus, walau benar bahwa tidak mungkin kesimpulan yang khusus dalam analogi itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.
      • Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
    • Faktor-faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif
      • Faktor tergesah-gesah
      • Faktor ceroboh
      • Faktor prasangka
    • Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola:
      • Pola dari sebab ke akibat
      • Pola dari akibat ke sebab
      • Pola dari akibat ke akibat
  • Logika Deduktif
    • Ciri-ciri penalaran deduktif:
      • Semua pernyataannya adalah preposisi kategoris.
      • Terdiri dari 2 premis dan sebuah kesimpulan.
      • Dua premis dan 1 kesimpulan memuat tiga term yang berbeda dan masing-masing term tampak di dalam dua dari tiga proposisi.
CRITICAL THINKING
  • Pengertian
    • Merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati2 mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu.
  • Karakteristik Pikiran Kritis
    • Rasional, Reasonable, Reflective
    • Melibatkan scepticism yang sehat dan konstruktif
    • Otonomi
    • Kreatif
    • Adil
    • Dapat dipercaya dan dilakukan
  • Ada 5 model berpikir kritis
    • Total Recall
      • Kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran.
      • mengingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
    • Habits
      • Pendekatan berpikir berulang-ulang dengan sering
      • Sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir
    • Inquiry
      • Memeriksa isu secara mendalam dengan menanyakan hal yang terlihat nyata, termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu.
      • Cara berpikir primer yang digunakan u/ menegakkan suatu kesimpulan.
    • New Ideas
      • Model ini membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber.
    • Knowing How You Think
      • Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir
      • Metacognition: berada di antara proses mengetahui
    REFERENCES
    • Power Point Dosen

    PICTURES
    • Subjectivism: http://gagooganesyan.com/images/subjectivism1.jpg
    • Objectivism: http://i720.photobucket.com/albums/ww207/camdaddy_2008/Obj_3.jpg
    • Confirmation: http://firstpresmorris.org/wp-content/uploads/2014/03/ConfirmationClip.jpg
    • Inference: http://lairdenglish.files.wordpress.com/2013/01/inference.jpg
    • Construction of Theory: http://www.greenbookblog.org/wp-content/uploads/2013/11/theory.jpg
    • Logic: http://www.logoncafe.net/artists/simple-logic-large.jpg
    • Critical Thinking: http://www.ega.edu/images/cache/49ac05f678da82e810e051bc11e61bc8fee74437.jpg

    Sabtu, 20 September 2014

    Posted by Vediana 02.43 7 comments
    EPISTEMOLOGY
    • Pengertian
      • Secara etimologi, epistemologi berasal dari episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu.
      • Epistemologi berarti cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
      • Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan (theory of knowledge).
      • Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
      • Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya: metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
    • Metode-metode untuk memperoleh Pengetahuan
      • Empirisme
        • Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman.
        • John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.
        • Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
        • John Locke memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut.
      • Rasionalisme
        • Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.
        • Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
      • Fenomenalisme
        • Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon)
        • Bapak Fenomenalisme: I. Kant.
    • Sifat Epistemologi
      • Secara kritis
        • mempertanyakan/menguji cara kerja,pendekatan, kesimpulan yg ditarik dlm kegiatan kognitif manusia.
      • Secara normatif
        • menentukan tolok ukur/norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
      • Secara evaluatif
        • menilai apakah suatu keyakinan,pendapat suatu teori pength dapat dipertanggungjawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
    • Dasar dan Sumber Pengetahuan
      • Pengalaman manusia
      • Ingatan (Memory)
      • Penegagasan tentang apa yang diobservasi (kesaksian)
      • Minat dan rasa ingin tahu
      • Pikiran & penalaran
      • Logika
      • Bahasa
      • Kebutuhan hidup manusia
    • Struktur Ilmu Pengetahuan
      • Ada 2 kubub yaitu subjek (berperan yang menyadari) dan objek (berperan sebagai yang disadari).
      • Hubungan antara subjek dan objek menghasilkan pengetahuan.
    • Teori Kebenaran
      • Korespondensi
        • Objek sesuai dengan kenyataan.
      • Koherensi
        • Kesesuaian pendapat dari beberapa.
      • Pragmatis
        • Dapat diaplikasikan.
      • Konsensus
        • Kesepakatan yang disertai alasan tertentu.
      • Semantik
        • Orang tahu dengan tepat arti suatu kata.
    TRUTH
    • Pengertian
      • Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis
      • Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya
      • Untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi (pernyataan) atau makna/isi pernyataan digunakan istilah benar – salah
      •  Untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi (pernyataan) atau makna/isi pernyataan digunakan istilah benar – salah
      • Konsep tidak dapat dinilai benar atau salah, betul atau keliru. Konsep hanya bisa dinilai jelas dan terpilah atau kabur, memadai atau tidak memadai.
      • Persepsi tidak dapat disebut benar atau salah. Yang bisa disebut benar atau salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipersepsikannya. Yang bisa benar atau salah adalah orang yang mepersepsikannya.
      • Kebenaran dalam bahasa Yunani adalah alètheia yang secara etimologi berarti ketaktersembunyian adanya (Plato).
    • Konsep Plato
      • Kebenaran dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada objek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk diketahui.
      • Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.
    • Konsep Aristoteles
      • Berbeda dengan Plato, Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subjek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.
      • Ada tidaknya kebenaran dalam putusan yang bersangkutan bersifat afirmatif (menegaskan atau menguatkan) (S itu P) atau negatif (S itu bukan P) itu tergantung pada apakah putusan yang bersangkutan sebagai pengetahuan dalam diri subyek penahu itu sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
      • Dalam hal ini kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara sunyek si pehanu dengan obyek yang diketahui.
    • Konsep Kaum Positivisme
      • Kebenaran dibagi menjadi 2:
        • Kebenaran Faktual: kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia.
        • Kebenaran Nalar: kebenaran yang bersifat tautologis dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.
      • Mengikuti Thomas Aquinas, kebenaran dibagi lagi menjadi 2:
        • Kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica): kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui.
        • Kebenaran Logis (Veritas Logica): kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
    • Kedudukan Kebenaran
      • Kedudukan kebenaran pengetahuan dalam pandangan Platonis lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui. sedangkan Aristotelian dalam subyek yang mengetahui.
      • Kedudukan kebenaran dalam tradisi Aristotelian lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
      • Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.
      • Kebenaran pada akhirnya berada dalam relasi antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui
    • Kesahihan dan Kekeliruan
      • Kekeliruan
        • Pada umumnya kekeliruan berarti menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang benar
        • Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subjek penahu, sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut.
        • Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah.
        • Kekeliruan dapat dikarenakan gegabah dalam menegaskan putusan tentang suatu perkara.
      • Faktor-faktor penyebab kekeliruan:
        • Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses  kegiatan mengetahui.
        • Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah.
        • Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi  atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
        • Prasangka dan bias-bias, baik individu maupun sosial.
        • Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logia.
    REFERENCES

    • Power Point Dosen

    PICTURES

    • Epistemology: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhucquqWQWfcIDs-FqPFazyXlR9tD1V56X1y1e_wKULg2f6gEtmqKG1XZmZkGsXfQL1gXMUoIKtaI4ApxtrtmwU2ipeoJnG_YUIp3oZWv4VuIMWMssEvwqMdPR91TAcO5FRl9fCaFHSgjQ/s1600/espitemology.jpg
    • Truth: http://chrismccurley.files.wordpress.com/2014/07/truth.jpg

    Search

    Bookmark Us

    Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter